Kategori
Pendidikan

Berdamai dengan Kesalahan (Cara Menerima Diri Sendiri)

MEDIAPENELITI.COM – Manusia tidak bisa selalu benar, bahkan jika manusia tidak pernah salah, maka ia tidak tahu mana yang benar.

Tentunya, kebenaran akan muncul, setelah kesalahan dilakukan.

Bukan demikian ?

Namun, sebagian orang tidak ada yang tidak bisa bangkit dari kesalahan, ia terus menghukum dirinya dengan kesalahan yang pernah ia perbuat.

Ia hanya meratapi kesalahan dan tidak mengambil pembelajaran dari kesalahan.

Nah, jenis yang begini, sebenarnya hanya merugikan dirinya sendiri, mengapa ?

Karena, harusnya ia tidak mengulangi kesalahan dan bisa berbuat lebih baik ke depan, malah dirinya hanya meratapi akan kesalahan dan trauma.

Contohnya simplenya begini, Anda mengendarai motor, kesalahan Anda, ketika bawa motor, karena terlalu gugup, Anda menabrak orang di depan sampai orang tersebut jatuh, berdarah, luka, untung gak mati.

Lalu, karena kesalahan itu, Anda trauma dan tidak ingin mengendarai lagi motor, karena bagi Anda, motor berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Akibatnya, Anda harus bergantung pada orang lain ketika ingin berpergian, hal seperti ini tentunya menyusahkan orang lain.

Anda sendiri tentunya tidak ingin disusahkan oleh orang lain, namun bagaimana yang nyusahin orang itu Anda ?

Kesalahan hanya sebagai pengingat

Anda berbicara dengan orang hingga membuat orang lain merasa sakit hati dengan ucapan Anda.

Sehingga Anda merasa bersalah dan sangat terpikir, bagaimana perasaannya, merasa Anda telah melakukan kesalahan besar dan tidak bisa dimaafkan.

Berpikir kesalahan besar demikian sebenarnya tidak masalah, namun harus dibarengi dengan kesadaran, bahwa Anda tidak berbicara sembarangan lagi pada orang lain.

Semua orang tentunya pernah melakukan kesalahan, namun tidak semua orang bisa mengambil pelajaran darinya.

Maka, sebelum tidur, ada baiknya, Anda merenungi apa saja kesalahan yang telah dilakukan seharian.

Jika memang Anda kira kesalahan tersebut parah dan menyakiti orang lain, esoknya bersegera minta maaf pada orang bersangkutan.

Namun, jika kesalahannya tidak terlalu berat dan tidak merugikan orang lain, Anda bisa mengambil pelajaran dan menjadi pengingat bagi Anda, agar tidak melakukan kesalahan serupa lagi.

Jangan lupakan kesalahan tapi terima dengan lapang dada

Lupa adalah sebuah tindakan represi, yakni mekanisme pertahanan psikologis manusia yang berusaha untuk mengarahkan hasrat dan dorongannya untuk sebanyak mungkin kesenangan dan sesedikit mungkin rasa sakit.

Demikian penjelasan dari Sigmund Freud, kesalahan bukan untuk dilupakan, meskipun terasa sakit ketika diingat, kesalahan amat berharga jika dianggap tidak pernah terjadi.

Misalnya Anda berkata kasar pada seorang teman, teman Anda tersebut sangat terluka dan merasa sangat sedih.

Tidak pantas Anda melupakan kesalahan itu dan menganggap tidak pernah terjadi, sebab bisa saja kesalahan itu mempengaharui psikologis teman Anda.

Sampai ia menyimpan dendam dan menunggu momen yang tepat untuk membalas Anda.

Meski ia tersenyum lebar pada Anda, bukan berarti perasaannya bahagia pada Anda.

Maka, jangan pernah lupakan kesalahan, selain menjadi salah satu cara agar Anda tidak melakukan kesalahan serupa lagi, dengan mengingat kesalahan, Anda bisa bersegera minta maaf dan memperbaiki suasana.

Jangan pelit bilang ‘Maaf’

Tidak semua orang bisa mengucapkan maaf jika melakukan kesalahan.

Bukan hanya maaf, kata-kata seperti ‘Terima kasih’ dan ‘Tolong’ juga menjadi sangat sulit diucapkan oleh sebagian orang.

Mengapa ?

Sebenarnya salah satu penyebabnya karena didikan dari kecil, yang kurang dibiasakan oleh orang tuanya untuk mengucapkan kata-kata diatas.

Namun, meski kurang dibiasakan, Anda bisa mengubahnya, Anda bisa memulai mengucap ‘Maaf’ ketika merasa salah.

Mengucap ‘Terima kasih’ jika ada orang berbuat sesuatu pada Anda, sekecil apapun.

Serta mengucap ‘Tolong’ jika Anda meminta sesuatu pada orang lain, sekecil apapun bantuan yang Anda butuhkan.

Karena, orang lain yang mendengar ucapan tiga kata itu, akan merasa lebih dihargai dan akan mengerjakan permintaan Anda dengan senang hati.

Memang, sebagian orang memandang, hal tersebut tidak berpengaruh banyak, bahkan ada yang mengatakan ‘Maaf-maaf melulu, tapi kesalahan terus dilakuin’.

Ungkapan tersebut ada benarnya, jika kesalahan yang dilakukan berulang-ulang dan sama.

Namun, ungkapan itu tidak tepat jika dipergunakan pada orang yang melakukan kesalahan sekali, namun ia dihukum bagi melakukannya berulang-ulang.

Ada kalanya, ungkapan maaf adalah ungkapan terakhir yang bisa dilakukan orang yang merasa bersalah.

Ungkapan itu juga tidak akan mungkin diucapkan oleh orang sembarangan, hanya orang yang sering merasa bersalah, yang sering mengucap ‘Maaf’.

Berdamai dengan kesalahan

Untuk mencapai kesempurnaan bersikap dan berperilaku, maka dibutuhkan berdamai dengan kesalahan.

Ada tiga tingkatan orang bersalah, yakni :

  1. Sadar akan kesalahan;
  2. Merenungi kesalahan;
  3. Berubah lebih baik karena kesalahan.

Ketiga proses tersebut akan dirasakan oleh siapa saja, ada orang sadar dirinya salah, namun ia belum tentu bisa tahu yang ia lakukan tidak baik.

Ada orang yang sadar salah dan merenungi kesalahannya, namun belum tentu ia bisa berubah menjadi orang lebih baik.

Tingkatan terakhir, yakni ia sadar salah, merenungi dirinya salah serta tidak berbuat lagi kesalahan yang serupa.

Jadi bukan mustahil, jika seseorang berbuat salah dan hanya itu-itu saja kesalahannya, mengapa demikian ?

Karena ia hanya sadar dirinya salah, namun tidak berusaha berubah.

Untuk ketingkatan ketiga dari berdamai kesalahan, orang harus menerima kesalahannya dengan lapang dada.

Tidak menghukum diri sendiri karena kesalahan, menghukum diri sendiri bisa diibaratkan dengan ‘trauma’ sehingga menjauhi segala hal yang bisa mengingatkannya dengan kesalahan yang pernah ia perbuat.

Seharusnya, terima kenyataan bahwa ‘aku salah dan aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi’.

Harusnya ‘aku akui aku telah melakukan kesalahan besar, dengan demikian aku berusaha agar menjadi pribadi lebih baik dan tidak menyakiti orang lain’.

Untuk mencapai kepribadian yang benar-benar sempurna, memang tidak mudah, diperlukan perenungan setiap saat.

Namun, setidaknya kita telah berusaha memberikan yang terbaik, bila saja masih terjadi kesalahan, maka itu adalah sebuah pembelajaran.

Semoga kita semua bisa menerima diri sendiri, meski banyak luka, meski banyak kurangnya.

Karena tidak ada yang lebih mencintaimu, selain dirimu sendiri, jika Anda tidak bisa menerima diri sendiri, bagaimana bisa, Anda meminta orang lain untuk menerima Anda apa adanya.

Karena sebelum meminta orang lain menerima Anda apa adanya, seharusnya Anda terlebih dahulu yang menerima kesalahan dan kekurangan Anda apa adanya. (Mediapeneliti.com/Syamsul Azman) 

2 tanggapan untuk “Berdamai dengan Kesalahan (Cara Menerima Diri Sendiri)”

Kadang kita bisa menerima kekurangan yang ada pada diri, namun ada sebagian orang tak bisa menerima kekurangan kita, bahkan saat mereka tahu kekurangan kita, merela malah… Dalam tanda (“). Bagaimana jika hal semacam tu terjad?

Terima kasih

Tinggalkan Balasan