Kategori
Pendidikan

Cerita Pertukaran Mahasiswa Merdeka Oleh Cut Cinta

Pertukaran Mahasiswa Merdeka atau yang kerap dikenal dengan (PMM). Adanya program mahasiswa Merdeka yang merupakan salah satu program yang digagas oleh Ditjen Diktiristek, kemdikbudristek, telah memberikan nuansa baru bagi perkembangan wawasan sejumlah mahasiswa. Program ini telah memberikan perubahan besar bagi perkembangan dan wawasan kebangsaan mahasiswa dari seluruh nusantara, bagaimana tidak dengan program ini mahasiswa sudah bisa berkomunikasi dan berkolaborasi antar satu dengan mahasiswa lain dari seluruh nusantara.

Saya Cut Cinta mahasiswa prodi Pendidikan bahasa Indonesia (PBI) Fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala yang mengikuti pertukaran mahasiswa merdeka (PMM2). Ingin sedikit membagikan cerita mengenai pengalaman saya mengikuti program pertukaran mahasiswa selama satu semester pada angkatan 2 ditahun 2022 lalu. Dalam program pertukaran pelajar tersebut, siapa sangka (UIM) Universitas Islam Makassar, yang terletak di Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini menjadi universitas tujuan saya untuk melaksanakan program tersebut. Universitas tujuan yang saya pilih karna awalnya saya tertarik dengan kebudayaan masyarakatnya.  Dan alhamdulillah saya lolos dan diterima oleh pihak panitia seleksi. Jika dilihat dari universitas terbaik lain di Sulawesi Selatan,  Universitas Islam Makassar yang disingkat UIM ini adalah salah satu Perguruan Tinggi Islam Swasta yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Al-gazali Makassar, yang terletak di jalan Perintis Kemerdekaan Kota Makassar. Universitas Islam Makassar ini berdiri sejak tanggal 06 Juni 2000, sebagai perubahan bentuk dan pengembagan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) 1984 dan  Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID), merupakan penerus cita-cita, visi dan misi Akademi Dakwah NU (1966), UNNU (1968) dan UNIZAl (1972).

Singkat cerita, pada 8 September 2022 saya berangkat dan tiba pada tanggal 9 september 2022 pagi hari pada pukul 02.45 WITA di bandara Sultan Hasannudi, karna perbedaan waktu dari WIB ke WITA saya mengalami kerlambatan jadwal penerbangan dari waktu yang telah ditentukan. Yang kemudian saya dijemput oleh PIC UIM dan beberapa dosen UIM lainnya untuk menuju ke UIM.  Kesan pertama saya melihat kota bernama Makassar dengan julukan kota Deang, bahwa meskipun ini salah satu kota besar di Sulawesi Selatan, kota ini masih dipenuhi dengan perpohonan yang masih asri, tidak seperti kota besar umumnya yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi di seluruh kota. Kota ini juga tidak padat penduduk sehingga masih banyak lahan kosong yang terlihat di sepanjang jalannya.

Kedatangan mahasiswa program pertukaran disambut baik oleh UIM, dimana diadakannya penerimaan resmi mahasiswa inbound pada Selasa 13 September dengan Rektor dan para dosen UIM, dan pengenalan setiap fakultas yang ada di UIM. Untuk ketersediaan tempat tinggal juga sudah diurus dengan baik oleh pihak UIM, yang kebetulan universutas ini memiliki asrama (RUSUNAWA) yang tadinya dihuni oleh mahasantri dari universitas tersebut. Dengan lingkungan asrama yang tidak berjarak jauh dari lingkungan kampus.

Berbicara mengenai kegiatan di dalam kampus, untuk hari Senin hingga Jumat, mahasiswa mengikuti kegiatan belajar seperti biasa sesusai dengan mata kuliah yang diambil pada universitas penerima. Di hari Sabtu dan Minggu, kami para mahasiswa melakukan kegiatan Modul Nusantara pengenalan budaya daerah Sulawesi Selatan atau mengunjungi situs bersejarah yang berhubungan dengan pengenalan budaya juga.

Untuk kegiatan perkuliahan, saya sendiri mengambil  jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan jurusan asal saya dari  universitas asal saya namun, saya juga mengambil beberapa mata kuliah di jurusan Pendidikan Anak Sekolah Dasar (PGSD) karna dalam program ini diterapkan Merdeka Belajar dan sangat diperbolehkan untuk lintas jurusan.  Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini juga menjanjikan pengakuan kredit hingga 20 SKS yang termasuk dengan Modul Nusanra yang berjumblah 4 SKS. Di kegiatan Modul Nusantara mahasiswa dapat merasakan secara langsung keberagaman budaya nusantara, baik secara tertulis maupun praktik.

Dari program ini, saya banyak dikenalkan dengan sejarah, budaya, serta kuliner di daerah  Sulawesi Selatan dan dapat berinteraksi langsung  dengan beberapa objek budaya, pada perjalanan pembelajran Modul Nusantara kami dikenalan dengan sebuah suku yang bernama “SUKU KAJANG” suku ini merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih sangat menerapkan adat dan kepercayaannya terhadap leluhur, suku kajang ini terletak di Kabupaten Bulukumba di kepulauan Sulawesi Selatan. Suku ini merupakan suku yang menolak adanya moderenisasi sehingga ketika kami memasuki daerah ini kami dilarang memakai alas kaki, membawa handphon dan barang elektronik lainnya. Dan suku ini juga memiliki ciri khas berpakaian serba hitam kami juga di wajibkan berpakaian serba hitam saat memasuki kawasan suku kajang tersebut, suku ini mempercayai bahwa berpakaian serba hitam memiliki makna kebersahajaan, kesetaraan masyarakat dan sebagai simbol kesederhanaan. Suku ini hidup dengan bergantung penuh kepada alam, hidup menyatu dengan alam dan menjaga hubungan dengan alam, sehingga pohon dan seluruh makhluk hidup yang ada dalam kawasan adat tersebut, tidak boleh di sakitin ataupun di rusak.

Tidak hanya suku kajang dipulau Sulawesi saya juga dikenalkan dengan komunitas “BISSU”. Masyarakat suku Bugis Sulawesi Selatan mempercayai adanya 5 sistem gender dengan peran yang berbeda seperti (1) Oroane (laki-laki) (2) Makkunrai (perempuan) (3) Calalai (perempuan dengan peran dan fungsi laki-laki) (4) Calabai (laki-laki dengan peran dan fungsi perempuan) dan yang ke (5) Bissu (perpaduan dua gender yauitu perempuan dan laki-laki dalam satu tubuh). Bissu ini merupakan tokoh spiritual yang dianggap sacral oleh masyarakat Bugis di Sulawsi selatan sejak zaman kerajaan. Mereka dianggap suci yang dapat menghubungkan manusia dengan dewa. Peran bissu dalam kebudayaan Bugis, adalah sebagai pengapdi, penasihat, dan penjaga aranjang, yakni benda pusaka keramat seperti tombok, peti, keris dan sejenisnya. Dalam cerita sejarahnya masyarakat Bugis di masa lampau, ketika ingin melakukan pemujaan, mereka biasanya berinteraksi melalui peran Bissu, Bissu adalah rohaniawan dalam ajaran atturiolong sebagai kepercayaan tradisional pra-islam yang sangat dihormati. Para Bissu dianggap sebagai medium yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia dewata secara transcendental.

Kami juga menyelenggarakan pentas budaya dengan judul “Besaudara dalam Bingkai Kebhinekaan” dengan tujuan pengenalan budaya mahasiswa dari sabang-merauke yang di isi dengan pengenalan tarian tradisional dan permainan khas masing-masing daerah. Yang bertujuan agar lebih mengenal Nusantara lebih luas. Tak hanya sampai di situ kami juga banyak dikenalkan dengan beragam suku dan budaya di Pulau Sulawesi Selatan. Kegiatan selanjutnya Kami juga di kenalkan dengan ragam kuliner khas Sulawesi Selatan seperti cotto Makassar, pallu basa, sop konro, kapurung, pisang epe’, es pisang ijo dan lain-lainya. Selain memperkenalkan dan memperaktekkan ciri khas dan menjelaskan cara pembuatan juga diceritakan filosofi dari makanan tersebut, Rasa nikmat berbedaan sangat terasa pada sisi ini, titik dimana nusantara punya sejuta keberagaman nan hangat yang baru saya kenal saat ini. Selain itu kegiatan modul nusantara ini juga melakukan kunjungan ke beberapa objek wisata seperti ke masjid 99 kubah, pantai bira, pulau liukanglu, ramang-ramang, leang-leang dan masih banyak lagi. Tempat yang dikunjungi tetap masih tak lepas dari nilai bersejarahnya.

Di akhir penutupan program ini kami dibawa kesalah satu ikon budaya dan parawisata di bagian Utara Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Tana Toraja.  Kabupaten ini terkenal dengan nilai toleransi antar agama yang tinggi, toleransi benar-benar terintegrasi dalam pola hidup masyarakat Tana Toraja. Tidak ada saling banding membandingkan, tidak ada kata saling hujat dan bahasa-bahasa penolakan. Kehidupan mengalir seiring sejalan dengan keyakinan masing-masing. Saling memberi ruang, saling mengerti bahkan saling tolong-menolong tanpa melihat latar belakang. Daerah Tana Toraja juga merupakan salah satu destinasi wisata Indonesia yang terkenal karna keindahan panorama alam dan keunikan budayanya. Salah satu budaya yang terkenal di Tana Toraja adalah budaya Rambu Solo.

Selama saya mengikuti program ini tidak hanya bisa bertemu dan berkenalan dengan mahasiswa dari berbagai universitas berbeda dari berbagai pulau di Indonesia. Saya juga banyak belajar dan mengetauhi sisi lain dari Nusantara yang sanggat beragam sesuasai dengan simbol Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “kesatuan dalam keberagaman, meski berbeda, namun tetap satu’’. Inilah sepengal cerita dari saya, harapannya semoga kemendikbud terus mempertahankan dan mengembangkan program MBKM ini, karna menurut kami program ini sangat bermanfaat untuk menumbuhkan semangat juang dan daya saing tinggi serta berbagi dan bertukar pengalaman dengan mahasiswa diseluruh Indonesia. Selain itu program ini juga dapat membuka ruang jumpa untuk saling bercerita, bertukar budaya, dan berbagi hal yang bermakna lainya dan sama-sama belajar menghargai perbedaan dan merayakan keberagaman.

Nah kini Pertukaran Mahasiswa Merdeka angkatan 3 sudah memasuki H-2 pembukaan pendaftaran. Yuk!!! teman-teman mari ikut berkontribusi mengikuti program MBKM yang satu ini, dapatkan pengalaman berharga dalam  kegiatan belajarmu melalui program ini, jangan sampai terlambat ya, kesempatan tidak datang dua kali loh…..

 

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan