Kategori
Pendidikan

Hilangkan Jiwa Iblis dalam Jiwamu Agar Damai Menghampiri

MEDIAPENELITI.COM – Dalam jika manusia memiliki sifat yang merugikan manusia itu sendiri, sifat tersebut berupa sisi gelap dari diri manusia.

Jika iblis memang mengakui tidak akan mengikuti perintah untuk bersujud pada Adam.

Menjadi pertanyaan, mengapa iblis tidak mau bersujud ? apakah mereka sudah tahu sifat manusia yang sebenarnya sehingga mereka tidak mendengar perintah.

Jika melihat keadaan sekarang, manusia yang bak tidak memiliki perasaan sama sekali, bahkan banyak kejadian kasus yang diluar akal sehat manusia.

Seperti membuang anak sendiri, menyiksa, pembunuhan dan sebagainya.

Tindakan merusak di atas muka bumi dan sebagainya,  mungkin karena hal tersebut menjadi salah satu alasan iblis enggan sujud pada manusia.

Mari kita diskusikan mengenai realita yang terjadi saat ini, banyak kerusakan-kerusakan yang dilakukan manusia di atas muka bumi, yang sebenarnya merugikan manusia itu sendiri.

Manusia membangun sekaligus menghancurkan alam.

Manusia menciptakan hal baru dan meluluh lantakan yang sudah ada.

Lalu apakah layak makhluk lain sujud pada manusia kala itu pada Adam?

Jika melihat keadaan saat ini, manusia lah yang menjadi perusak di atas muka bumi demi kepentingannya sendiri, bukan demikian ?

Bagaimana menurutmu ?

Manusia diciptakan di atas muka bumi sebagai makhluk penganti dari makhluk-makhluk sebelumnya yang menghancurkan bumi.

Sehingga muncul ungkapan khalifah, manusia itu adalah khalifah.

Lalu apakah khalifah itu ?

Khalifah selain bermakna sebagai pemimpin, ia juga bermakna sebagai pengganti.

Seperti salah satu ayat Alquran yang membahas Khalifah, yang inti dari pembahasannya yakni Allah SWT akan menciptakan seorang khalifah (penganti) di muka bumi.

Lantas para malaikat bertanya pada Allah SWT, mengapa menciptakan manusia sebagai khalifah, karena akan menimbulkan kehancuran di atas muka bumi.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!’

Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS Al-Baqarah : 30).

Menjadi pertanyaan, mengapa malaikat bisa tahu jika manusia akan membuat kehancuran di atas bumi, sedangkan manusia sendiri belum diciptakan, kala itu Allah SWT masih merencanakan menciptakan khalifah (penganti).

Tentunya sebelum manusia diciptakan sudah ada makhluk lain di muka bumi yang membuat kehancuran, sehingga malaikat berani bertanya pada Maha Pencipta mengapa kembali menciptakan makhluk yang bisa membuat kehancuran.

Pertanyaan malaikat tersebut mengidentifikasikan bahwa sebelumnya ada makhluk sejenis manusia di atas muka bumi yang bersifat merusak.

Lalu bagaimana menghilangkan jiwa iblis pada diri manusia ?

Bercermin

Anda perlu banyak bercermin, artinya sering melakukan instropeksi diri, kenali diri, pahami bagaimana sifat dan sikap Anda.

Sudahkah sesuai dengan yang dianjurkan atau norma-norma yang berlaku. Sesuai dengan nilai moral yang ada atau tidak.

Perlu lebih banyak memahami kesalahan diri sendiri daripada melihat kesalahan yang dilakukan orang lain.

Bukankah menjadi pribadi baik yang paling penting daripada menuntut orang agar bisa bersikap baik ?

Instropeksi diri

Anda perlu sering-sering melakukan instropeksi diri agar tidak menghakimi orang lain, mengapa ? karena bisa saja orang melakukan kesalahan karena perbuatan Anda.

Sebelum menyalahkan orang lain, coba berpikir mengapa orang lain bisa bersalah.

Atau yang salah adalah Anda, namun orang lain mengaku bersalah agar Anda senang dan tidak memperpanjang masalah.

Sebelum tidur coba instropeksi diri, kesalahan apakah yang telah dilakukan hari ini, ucapan apa yang menyakiti orang lain hari ini dan sebagainya.

Instropeksi diri sangat penting, karena Anda bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang Anda lakukan sendiri atau dari kesalahan orang terhadap Anda.

Bisa saja kan, kesalahan orang lain menjadi pengalaman bagi Anda agar tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang lain.

Berpikir terbuka dan tidak fanatik

Anda pernah mendengar kebenaran itu relatif ?

Nilai kebenaran tergantung pada masing-masing orang, bisa saja kebenaran bagi Anda makan malam pada jam 6 sore, bagi sebagian orang makan malam yang benar pada jam 8 malam.

Nah hal ini saja sudah memperlihatkan kebenaran tidak bisa dipaksakan pada orang lain, jika Anda beranggapan suatu nilai benar, belum tentu yang Anda yakini itu benar bagi orang lain.

Terlalu fanatik pada suatu pandangan juga tidak baik, kadang Anda harus berpikiran lebih terbuka, menerima pendapat sebelum membantah.

Anda bisa menyimak baik-baik pendapat orang sebelum membuangnya karena tidak sesuai dengan jalan pikiran Anda.

Karena bisa saja yang Anda yakini salah dan dikatakan orang lain benar.

Dunia ini memiliki tiga cara pandang, cara pandang ‘Aku, Kamu, Mereka’. Anda harus terbiasa dengan cara pandang ini.

Misalnya Anda dihadapkan pada sesuatu hal, sebelum memutuskan memberi jawaban, cobalah berpandang dari tiga sisi.

Bagaimana pandangan saya terkait ini ?

Bagaimana pandangan Kamu/ dia terkait hal ini ?

Lalu bagaimana pandangan mereka (orang banyak) terkait hal ini ?

Jika Anda telah menelaah dan sudah dapat jawaban atau titik tengah dari tiga pandangan, bisa saja Anda memberikan keputusan.

Jangan gegabah dalam memberikan suatu keputusan, lebih baik lama memberi keputusan daripada lama menyesal karena keputusan salah.

Demikian, nanti kita bahas lagi, saya tidak mengatakan tulisan ini sepenuhnya benar karena setiap orang memiliki pandangan berbeda-beda.

Kolom komentar terbuka lebar, silahkan tinggalkan komentar Anda untuk diskusi lebih lanjut. (Mediapeneliti.com)

Tinggalkan Balasan