Kategori
Pendidikan

Latah Sosial dan Panjat Sosial : Fenomena yang Membudaya

MEDIAPENELITI.COM – Latah sosial dan panjat sosial : fenomena yang membudaya. Pertanyaannya, positif atau malah negatif?

Jawaban: bisa jadi keduanya. Setiap fenomena pasti ada pro dan kontra. Hanya berbeda dari cara kita menanggapi, bereaksi dan memberlakukan saja.

Eh tunggu! Mungkin ada yang belum tau, latah sosial apaan ya? Terus panjat sosial, apalagi? Oke, sekarang kita bahas satu satu.

Mengenal latah sosial

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, “Latah” diartikan sebagai :

1) Menderita sakit syaraf dengan suka meniru perbuatan atau ucapan orang lain

2) Berlaku seperti orang gila (misalnya karena kematian orang yang dikasihi)

3) Meniru sikap, atau perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.

Dalam dunia Psikologi, latah tidak dikategorikan sebagai sebuah penyakit, tetapi psikiater mengatakan perilaku ini masuk ke dalam kategori gangguan gejala kejiwaan.

Makanya latah jadi masuk ke gangguan (gejala psikiatri) dan berhubungan dengan kultur atau budaya.

Fenomena yang membudaya

Nah, menarik jika kita teliti bagaimana latah sosial ini menyerang ‘syaraf’ kita melalui dunia maya.

Saya ambil contoh; ada seorang mahasiswa yang muncul dengan posting kritis menanggapi fenomena yang terjadi dikampus.

Tidak perlu waktu lama, langsung terbentuk dua kubu; pro dan kontra.

Kubu bertahan akan megeluarkan segala statement mendukung dengan segala hujahnya, manakala kubu lawan yang tak mau kalah juga berkoar-koar dengan segala hujatnya.

Nah, mulailah kita menjadi para reaksioner; pantas me-respon apabila ada suatu fenomena yang terjadi.

Namun hati-hati saja, bahwa menjadi reaksioner tanpa pengetahuan luas dan visi yang jelas akan rawan jatuh dalam relung yang salah.

Akhirnya, pihak yang menang adalah yang oknum bijak yang mengambil kesempatan demi kepentingan tertentu.

Sekarang kita sudah sedikit paham bagaimana latah sosial bisa atau mungkin sedang menyerang kita saat ini.

Terlebih, jika pengguna media sosial ini bukanlah seorang yang pro melainkan seperti katak yang sudah lama berada dibawah tempurung.

Sekali dibebaskan ke dunia luar mulailah ia melompat tanpa tujuan yang jelas.

Pikirannya masih terbelenggu pada dunia sempit dibawah tempurung. Jadi melihat dunia luas ia pun bingung.

Dampak positif latah sosial

Benar, tidak selamanya latah sosial ini berkonotasi negatif.

Katakan saja misalnya sebuah organisasi dakwah yang setiap waktu solat duha akan kompak berbagi posting berupa ajakan solat.

Mereka sekaligus mengingatkan ‘jemaah online’ untuk solat duha dan meninggalkan kesibukan dunia seketika, atau pada brosur-brosur donasi, atau flyer kajian.

Jika lebih ramai yang terkena latah ini, maka semakin banyak orang akan mendapatkan informasi-informasi tadi.

Maka terjadilah sebuah fenomena latah sosial yang berdampak baik pula. Nah!

Fenomena panjat sosial

Sudah, cukup dulu tentang latah sosial ya. Mari kita kenalan pula dengan makhluk social climber.

Dapat kado sepatu branded: jepret, upload, pamer!

Buka puasa di restoran mahal: jepret, upload, pamer!

Ketemu selebgram: sefie, upload, pamer juga ah! hehe..

Melihat fenomena diatas, apa yang mulai terlintas di pikiran anda? Atau mungkin anda sudah bisa membayangkan siapa orangnya?

Sebelumnya maaf, tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun, saya hanya mencontohkan bagaimana yang dikatakan dengan situasi panjat sosial.

Namanya juga makhluk sosial, maka wajar jika pada dasarnya manusia itu butuh penerimaan dari lingkungannya.

Sadar atau tidak, kita tanpa sengaja (atau mungkin memang sengaja) telah melakukan banyak cara agar diperhatikan banyak orang.

Pada akhirnya rating viewers, likers, dan followers-lah yang akan menaikkan status sosial kita di mata netizen. Lebih tepatnya, status kita di media sosial.

Mengenal si social climber

Perilaku yang saya beri contoh diatas disebut sebagai panjat sosial atau bahasa jawa-nya social climber.

Menurut Urban Dictionary, panjat sosial adalah mereka yang menjadi teman orang lain jika orang itu memiliki sesuatu yang mereka inginkan atau butuhkan.

Social climber menghargai hubungan manusia berdasarkan popularitas dan status, karena kedua hal itu adalah kebutuhan utama mereka. Waduh! pertemanan macam apa ini? 

Perilaku panjat sosial muncul dikarenakan kurangnya rasa percaya diri pada seseorang sehingga sering membandingkan diri dengan orang lain.

Pro dan kontra panjat sosial

Menarik jika diteliti lebih lanjut, bahwa faktor gaya hidup menjadi salah satu penyebab orang bisa berperilaku panjat sosial.

Sadar atau tidak, hari begini, segala kegiatan, nikmat hidup, aset dan harta karun sepertinya harus di-dokumentasi dulu (ya maksudnya di pajangin di medsos lah).

Masalah benar atau tidak faktanya mah belakangan, yang penting sudah update!

Sama seperti latah sosial, panjat sosial pun memiliki sisi positif. Nah, tidak selamanya istilah social climbing ini berkonotasi negatif.

Sementara informasi di media sosial sangat cepat sekali menular, kita bisa mengajak orang lain berbuat kebaikan.

Misalnya dengan posting kata-kata Mutiara atau update status yang menginspirasi.

Paling tidak, kita bisa berbagi informasi tentang pendaftaran anggota komunitas, lomba atau kegiatan-kegiatan seru yang bermanfaat bagi orang lain.

Selain dapat menghindar dari menjadi social climber, kita juga dapat pahala menebar kebaikan.

Oh iya! dan kita pun, daripada hanya menjadi viewers setia menunggu update si social climber tadi, mending bikin karya sendiri. Menulis artikel di blog misalnya.

Fenomena yang membudaya

Baik latah sosial maupun panjat sosial, keduanya sama-sama berdampak besar pada diri jika kita tidak bijak mengawalnya.

Suatu fenomena boleh jadi positif, dapat juga dianggap negatif. Apalagi jika sudah membudaya. Namun, semuanya kembali pada ruang perspektif kita masing-masing.

Jika memakai kaca mata yang salah, maka apapun didepan mata kita akan terlihat jelek.

Oleh sebab itu, sebelum memakai kaca mata, penuhi dulu hati ini dengan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya.

Maka akan terjawab jelas keraguan yang dulunya masih menjadi tanda tanya. (Mediapeneliti/Fatimah Zuhra)

 

Tinggalkan Balasan