Kategori
Pendidikan

Masjid Raya Baiturrahman, Dari Terbakar sampai Dibangun Belanda

Bagian kedua, pembahasan sejarah Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh. Masjid kebanggaan rakyat Aceh ini memang memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan iringan zaman Serambi Mekkah.

Sebelumnya masjid ini sempat terbakar, pada masa Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah (1675-1678 M). Terbakarnya masjid ini karena terjadi pergolakan yang dipicu oleh kaum wujudiyyah (kelompok yang menganut ajaran tentang keberadaan wujud Allah/ dipelopori Hamzah Fansuri).

Kaum Wujudiyyah menyatakan sikap terkait kepemimpinan perempuan di kesultanan. Pergolakan tersebut memunculkan kepanikan, sehingga mengakibatkan terbakarnya masjid dan istana. Kejadian ini terjadi diperkirakan pada tahun 1677M.

MRB merupakan masjid utama di Aceh, sehingga terbakarnya masjid menjadi perhatian masyarakat. Nurul Alam membangun kembali masjid yang terbakar dan dilanjutkan oleh Sultanah Zakiyyat al-Din (1678-1688 M).

Menurut informasi, masjid yang dibangun kembali oleh Sultanah Zakiyyat al-Din berbeda arsitekturnya dengan masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda (1606-1636 M).

Lalu, ketika terjadi agresi Belanda kedua, penjajah memusatkan serangan di MRB. tepat pada 6 Januari 1874, Belanda berhasil merebut MRB, akibat dari serangan tersebut, MRB hancur, apalagi Belanda menganggap MRB sebagai pusat kekuatan rakyat Aceh sekaligus tempat jenderal mereka tewas, yakni J.H.R. Kohler.

Empat tahun setelah masjid hancur, Maret 1877 M, sebagaimana janji  Jenderal Van Swieten (pemimpin agresi Belanda kedua di Aceh), melalui Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali MRB.

Pembangunan dilaksanakan oleh Jenderal K. Van der Heyden, pada 9 Oktober 1879, dilakukan peletakan batu pertama.

Mengenai arsitektur masjid, Belanda meminta pandangan dari ulama di Garut, agar tidak bertentangan dengan nilai Islam.

Masjid yang kembali dibangun itu senilai Dua Ratus Tiga Ribu Gulden. MRB dibangun dibawah pengawasan arsitek Meneer BRUINS dari Departement van Burgelijke Openbare

Werken Batavia dan selesai pada tahun 1881.

Pembangunan masjid ini dikerjakan oleh Letnan China, Lie A Sie. Sebenarnya, Belanda mengharapkan orang Aceh yang membangun kembali MRB, namun tidak berjalan sesuai diharapkan, sehingga dilibatkan Lie A Sie yang berasal dari China untuk mengerjakannya. – Bersambung Bagian Ketiga…

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan