Kategori
Pendidikan

Pengaruh Jiwa Masa Kecil yang Terluka, dalam Pengasuhan Anak

MEDIAPENELITI.COM Pengaruh jiwa masa kecil yang terluka dalam pengasuhan Anak. Pernah atau sering mendengar istilah inner child (jiwa masa kecil)?

Secara garis besar, inner child adalah jiwa masa kecil seseorang yang dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang pernah dialaminya dulu.

Misalnya seorang anak laki-laki yang sangat dekat dengan ibunya, ketika sudah dewasa dan ingin memilih pasangan hidup, ia akan cenderung memilih pasangan yang mendekati karakter ibunya.

Contoh lain misalnya adalah seorang anak perempuan yang mendapat perlakuan kasar di masa kecil oleh ayahnya, ketika dewasa ia akan cenderung menghindar atau lebih parah, membenci lawan jenisnya.

Nah, dapat kita lihat bahwa pengalaman atau peristiwa menyenangkan yang membekas pada masa lalu seseorang akan membentuk jiwa inner child yang sehat ketika ia sudah dewasa.

Manakala pengalaman pahit yang membekas hanya akan menjadi dendam yang dibawa hingga dewasa, oleh si inner child yang terluka.

Oleh itu, tak jarang kita temui orangtua yang menerapkan pola asuh tidak sehat kepada anak-anak mereka.

Terlepas dari tipe pola asuh yang dipakai dalam mengasuh anak, cara mereka mengasuh juga sebenarnya sangat dipengaruhi oleh inner child masing-masing.

Nah, berikut ini adalah pengaruh inner child orang tua dalam mengasuh anak, yang sering kita temui:

Emosi yang mudah meledak-ledak

ketika sedang belajar menggambar, si kecil yang berusia 2.5 tahun tak sengaja mengotori keramik rumah dengan cat air. Akibatnya, lantai rumah menjadi kotor dan berantakan dengan mainan.

Alih-alih membereskan rumah yang kotor, si ibu langsung membentak sang anak tanpa ampun.

Padahal kalau dipikir-pikir, anak kecil itu tidak sengaja. Ia hanya sedang bermain dan tentu saja saat anak bermain, rumah akan seketika menjadi berantakan.

Eh ternyata, saat si ibu masih kecil ia juga sering dimarahi orangtuanya saat rumah kotor akibat mainannya yang berantakan. Berujung, inner child yang terluka tadi dilampiaskan kepada anaknya sendiri.

Anak yang ketakutan akan menyembunyikan diri dari orangtua. Sumber foto: Pixabay

Dampak buruknya, inner child yang terluka tadi tentu saja tidak terlerai saat itu bahkan memperpanjang mata rantainya. Anak kecil akan merekam semua peristiwa masa kecilnya, dan peristiwa buruk malah akan mengganggu emosi serta psikologisnya.

Berujung, ketika tumbuh dewasa ia akan selalu takut untuk berbuat kesalahan, dan lebih parahnya ia tidak tau bagaimana menanggapi kesalahan sebagai pembelajaran dan bukan hukuman.

Membanding bandingkan pola perubahan zaman

“Ayah dulu gak pake hp, bisa jadi orang sukses. Kamu baru 18 tahun sudah minta hp..”

Sudah pernah dengar adegan yang kurang lebih sama seperti diatas? Begitulah karakter sebagian orangtua dengan inner child yang terluka.

Dalam situasi ini, mungkin orangtua dimasa kecil, keinginannya seringkali tidak terpenuhi. Maka ia ingin apa yang dirasakannya turut dirasai juga oleh anaknya dengan sabar.

Sebenarnya, situasi begini tidak baik dalam beberapa hal. Seperti kasus diatas misalnya; orangtua harus paham pola perubahan zaman.

Sekarang zaman teknologi, mungkin anaknya (yang sudah berusia 18 tahun) sudah bisa dibelikan Android guna untuk keperluan sehari-hari.

Seharusnya orangtua mendidik anak sesuai zaman mereka, dan bukan memaksa anak harus mengikuti trend zaman dulu.

Hal ini sudah pernah disampaikan oleh Saidina Ali R.A; “didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan dizamanmu.

Terlalu Protective

Anak kecil itu memang sudah sifatnya suka mengeksplorasi dan mencoba hal-hal baru. Tingkat penasaran pada anak mulai tumbuh sejak ia bisa bermain dan punya teman main.

Nah, disini muncul sifat protektif berlebihan pada orangtua. Misalnya dengan melarang anaknya bermain diluar rumah karena khawatir diculik orang, atau melarang anak bermain pasir karena khawatir bajunya kotor.

Sumber foto : Pixabay

Coba dicek lagi, mengapa Anda selaku orangtua sampai jadi over protective begini?

Apakah di masa kecil Anda juga sering dilarang-larang keluar, ditakut-takutkan dengan bahaya yang belum pasti terjadi, atau bahkan Anda malah sering di ’kurung’ dirumah saat teman yang lain bebas bermain? Nah!

Sebenarnya, apa yang harus dilakukan oleh orangtua adalah memantau anak-anak ketika mereka bermain. Jika tidak ingin anaknya diculik orang, ya di awasi. Masalah baju kotor ketika bermain, kan bisa dicuci?

Mendidik anak secara keras dan kasar

Selaku orangtua (atau calon papa mama muda) Anda harus sepenuhnya sadar dalam mendidik anak.

Betapa tidak? Pola asuh dan didikan yang Anda berikan akan membekas dan membentuk kepribadiannya dimasa akan datang.

Mendisiplinkan anak tentu saja tidak salah, tetapi jangan sampai cara mendisiplinkan anak dilakukan dengan kekerasan.

Misalnya jika anak berbuat kesalahan langsung dimarahi dan dibentak dengan kasar. Padahal tujuan Anda adalah supaya anak tidak mengulangi kesalahan mereka lagi.

Tetapi dengan sikap demikian, anak malah trauma dan takut mengakui kesalahannya jika ia kemudian berbuat kesalahan lagi.

Cara terbaik adalah melalui penjelasan dan sentuhan. Jelaskan baik-baik dengan lembut kepada anak mengapa ia tidak seharusnya berbuat kesalahan dan apa dampak dari kesalahannya tadi?

Kemudian, jika anak menangis, peluklah. Peluk dan bisik doa-doa terbaik buatnya dengan rasa cinta.

Alhasil, amarah kita pun akan hilang dan seiring berjalannya waktu, anak akan paham bahwa yang ia lakukan adalah salah dan ia tidak seharusnya mengulangi lagi kesalahan yang sama di lain waktu.

Orangtua yang mendidik anak dengan kasar dan keras, seperti suka memukul, menendang, memberi hukuman berat dan bahkan melakukan penderaan baik fisikal atau emosi adalah orangtua dengan luka batin atau inner child paling parah.

ilustrasi luka batin anak kecil. Sumber foto : Facebook

Maka perhatikan baik-baik, apakah Anda atau mungkin pasangan Anda belum berdamai dengan inner child yang terluka?

Terlalu memanjakan anak

Memanjakan anak tidak salah, asal tau kondisi. Ada waktu-waktu dimana Anda sebagai orangtua tentu saja ingin sekali memanjakan anak apalagi si kecil begitu menggemaskan dan punya daya tarik yang lebih kuat dari magnet.

Maka tidak jarang Anda pun luluh dan ikut memberikan segalanya, demi kebahagiaan sang anak.

Tetapi awas, terlalu memanjakan anak bisa jadi adalah dampak dari inner child orangtua yang kecewa akibat kurangnya rasa kasih sayang di masa kecil.

Anak ingin dibeliin mainan mahal, dibeli. Anak minta dibeliin jajan setiap hari. Dituruti. Anak memukul temannya, anak sendiri dibela, temannya tadi dimarahi. Lah, ini sudah berlebihan sekali.

Bagaimana ini bisa terjadi? Jika ditelusuri masa lalu ibu atau ayah yang seperti ini, mungkin dulu ia sering dimarahi orangtua dan keinginannya jarang sekali dituruti. Di sisi lain bisa jadi dulu ia juga sering dibela dan terlalu dimanjakan. Nah!

Sumber foto: Pixabay

Orangtua harus sadar bahwa tidak semua keinginan anak harus dituruti. Ada masanya orangtua harus mengajarkan anak bahwa ia bisa berusaha dulu untuk mendapat apa yang diinginkan.

Misalnya jika ingin membeli mainan, ajarkan anak menabung. Jadi, mainan tidak langsung dibeli tetapi dengan cara begini orangtua bisa melatih dulu kesabaran dan konsistensi sang anak.

Jika ia benar-benar menginginkan mainan, maka ia akan berusaha menyisihkan uang jajannya kedalam tabungan.

Nah, jadi tidak selamanya apa yang diinginkan sang anak wajib Anda turuti saat itu juga, tanpa pertimbangan. Lama kelamaan anak akan tumbuh menjadi individu yang manja dan tidak bisa apa-apa.

Buat calon papa mama muda, pastikan jiwa inner child Anda baik-baik saja ya. Ingatlah bahwa menikah tidak hanya tentang cinta, tetapi juga dibarengi dengan segala konsekuensi.

Termasuk berhasil tidaknya Anda dalam mendidik anak, ketika sudah bergelar orangtua nanti. (Mediapeneliti.com/Fatimah Zuhra)

Tinggalkan Balasan