Kategori
Pendidikan

Pentingnya Menjadi Diri Sendiri, Kamu Bukan Mereka

MEDIAPENELITI.COM – Pentingnya menjadi diri sendiri, kamu bukan mereka.

Mungkin kalimat, “jadi dirimu sendiri” (be yourself) sudah akrab Anda dengar atau baca pada lembar buku motivasi, majalah, koran, maupun quotes Instagram.

Ada yang menanggapinya secara serius dan lebih bersemangat menjalani hidup, namun ada pula yang tidak pernah bisa memberinya makna dengan jelas.

Bagaimana maksudnya menjadi diri sendiri ini? Memang Anda selama ini sedang menjadi orang lain? Hmm…

Sebelum membahas tentang mengapa kita harus (atau tidak harus) menjadi diri sendiri, mari kenali dulu siapa sejatinya diri kita ini?

Konsep diri

Menurut para Psikolog, konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, bagaimana seseorang melihat dirinya, atau cara pandangnya terhadap apa, siapa, dan bagaimana dirinya.

Faktor pembentukan konsep diri

Pakar psikologi barat sepakat bahwa konsep diri dibentuk oleh banyak faktor dimana salah satu faktor penting adalah lingkungan sosial.

Individu yang paling berpengaruh dalam hidup Anda merupakan individu yang punya peran penting dalam membentuk konsep diri Anda.

Misalnya orangtua, saudara kandung, pasangan, sahabat karib, atau guru favorit.

Jika Anda diterima, dihormati dan disenangi orang lain karena keadaan diri Anda, maka Anda secara tidak langsung akan menyenangi dan menghargai diri sendiri.

Sebaliknya, jika orang lain menolak, menjatuhkan, mencemooh serta meremehkan diri Anda, maka Anda juga akan menolak diri Anda sendiri.

Selain individu yang berpengaruh dalam hidup, konsep diri juga terbentuk hasil dari norma masyarakat ditempat Anda tinggal.

Setiap kelompok masyarakat mempunyai norma tertentu yang mengikat dan berpengaruh terhadap konsep diri. Kelompok ini disebut sebagai kelompok rujukan.

Individu akan merasa perlu mengikuti norma sosial kelompoknya dan menyesuaikan diri dengan ciri-ciri kelompoknya.

Misalnya, muslimah di Aceh memakai jilbab ketika keluar rumah. Selain menjadi tuntutan agama, hal tersebut juga sudah menjadi norma dalam masyarakat Aceh.

Maka, dapat kita lihat di Aceh yang memang mayoritas beragama Islam, para wanitanya akan patuh terhadap tuntutan memakai jilbab.

Sementara di ibu kota Kuala Lumpur, dengan lingkungan dan aturan yang lebih longgar, memakai jilbab merupakan hak personal individu.

Tidak semua muslimah akan memakai jilbab sampai dengan usia tertentu. Maka jika kita berkunjung ke Kuala Lumpur, jangan kaget jika bertemu muslimah yang tidak berjilbab.

Jelas dapat kita lihat bagaimana lingkungan dapat berpengaruh pada pembentukan karakter dan konsep diri individu, bukan?

Tidak semua orang harus menjadi dirinya sendiri

Tidak jarang saya menemukan individu dengan konsep diri negatif inilah yang kemudian akan ‘dipaksa’ agar tetap “jadi dirimu sendiri” (be yourself).

Padahal, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, individu dengan konsep diri yang negatif (pesimis, minder, tidak bisa mengontrol diri), cenderung menolak dirinya dan berkeinginan menjadi lebih baik.

Mereka juga ingin tetap optimis, ingin selalu semangat, dapat mengembangkan potensi diri dan menghapus segala perasaan negatif yang ia pendam.

Ironinya, ketika bercerita tentang kegelisahan hati dan pikiran, mereka malah diminta untuk “jadi dirimu sendiri” (just be yourself). Lalu pertanyaannya, diri yang bagaimana?

Jika ia sombong, egois, kasar dan tidak berperikemanusiaan, tidak mungkin ia harus tetap menjadi dirinya yang demikian, bukan?

Apa yang harus ia lakukan adalah berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

Justru, kata-kata “jadi diri sendiri aja” ( just be yourself) bisa Anda perindah menjadi “jadilah lebih baik dari dirimu yang sebelumnya” atau “be the best version of you” (jadilah yang terbaik versi dirimu sendiri).

Paling tidak, begitu lebih baik.

Seiring dengan berjalannya waktu, Anda akan paham mengapa tidak semua orang mau, harus atau bisa menjadi dirinya sendiri.

Maksud dari kata-kata positif , “jadilah diri sendiri” (be yourself) akan menuntut Anda menjadi pribadi yang tidak pernah ragu pada potensi diri, pantang menyerah, serta tidak mendengarkan cacian, atau ejekan orang yang berniat menjatuhkan Anda.

Singkatnya, jangan dengar omongan negatif orang lain, “ jadi diri sendiri aja!” (Mediapeneliti.com/Fatimah Zuhra)

Tinggalkan Balasan