Kategori
Hiburan

Penyesalan Ibu Pertiwi pada Negeri Sejuta Asa

MEDIAPENELITI.COM – Penyesalan Ibu Pertiwi pada Negeri Sejuta Asa, merupakan tulisan fantasi, Anda bisa menafsirkan sendiri kemana arah tulisan ini.

Cerna baik-baik dan berikan tanggapan Anda dengan melihat kondisi lingkungan tempat Anda tempati.

Akhir kata, selamat membaca.

Pada sebuah negeri yang subur, makmur, alam sejuk nan asri, serta hasil alam melimpah ruah.

Laut melimpah dengan ikan, hutan melimpah dengan tumbuh-tumbuhan, serta masyarakat penuh keberagaman.

Tidak ada perpecahan, selalu satu kata dan satu tujuan, kondisi alam ramah bagi siapapun yang menempatinya.

Jauh masuk dalam negeri, hidup satu keluarga bahagia, kedua orang tua serta lima anaknya bernama Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi, dan yang terakhir Jawa.

Mereka bersaudara, sedarah, kakak beradik. Lingkungan baik untuk berburu, bercocok tanam, membuat kerajinan tangan, dan sebagainya.

Semakin hari mereka berlima kian dewasa.

Kalimatan sebagai anak pertama pergi merantau ke timur, selanjutnya Sumatera pergi ke barat.

Papua dan Sulawesi mengikuti Kalimantan ke arah timur, hanya Jawa yang tinggal bersama Ibu dan Bapak di pertengahan daerah.

“Pak, saya sudah dewasa, ingin merantau,” pinta Kalimantan.

“Kemana, Nak?,” tanya bapak.

“Saya ingin ke Timur, Pak.”

“Ya sudah, baik-baik, jangan buat kerusakan. Ke mana pun kamu pergi, jangan lupa dari mana kamu berasal, Nak,” harap orang tuanya.

“Baik, Pak. Saya akan ingat selalu nasehat Bapak,” Kalimantan meyakinkan.

Sekian lama mereka merantau, jauh dari ibu bapak, dan masing-masing telah memiliki anak.

Orang tua mereka kian dimakan usia dan menutup usia.

Perpecahan mulai terjadi, karena panutan mereka telah tiada, memperebutkan peninggalan-peninggalan.

Jawa sebagai anak paling kecil yang telah lama tinggal bersama orang tua tidak ingin rumah yang ditempatinya dimiliki oleh abang-abangnya.

Ia tidak ingin rumah peninggalan ini tidak terawat.

Berkumpullah mereka, di tempat yang ditempati oleh Jawa saat ini membicarakan pembagian-pembagian harta.

Dari timur dan barat semua kembali ke tengah, sudah sangat lama mereka tidak berkumpul seperti itu karena sudah memiliki kehidupan masing-masing.

Tidak ada kata sepakat dari mereka berlima, diskusi pun berujung pada perpecahan keluarga, dengan keadaan marah, mereka kembali pergi.

“Aku anak yang paling tua, sudah sewajarnya aku memiliki rumah ini” tutur Kalimantan.

“Abang paling lama jauh dari rumah,” jawab Jawa.

“Iya, bang. Jawa yang paling lama tinggal di rumah ini,” sambung Sumatera.

“Kalau begitu, biar saya dan Jawa saja di rumah ini” Sulawesi menambahkan.

“Benar, Sulawesi juga lama tinggal di rumah ini” kata Papua.

“Biarkan Jawa saja di rumah ini, dia berhak di sini” jawab Sumatera.

“Abang-abang, saya tidak bisa pergi dari rumah ini” sahut Jawa mulai yang mulai sendu.

Tidak ada kata sepakat, karena rumah itu amat menguntungkan jika dimiliki.

Selain berada di pertengahan, rumah ini juga memiliki banyak sejarah, serta sebagai daerah yang harus dilewati ketika berpergian.

Sampai pada akhirnya, mereka tidak menemukan titik terang.

Mereka mengambil keputusan, untuk membagi tanah-tanah peninggalan orang tua.

Pembagian tersebut dilihat dari arah mereka merantau.

Kalimantan mendapat tanah bagian Barat dan Tengah.

Sumatera mendapat bagian Barat.

Papua mendapat bagian Timur.

Sulawesi mendapat bagian Tengah dan Jawa mendapat sebagian di Barat dan Tengah serta rumah orang tua.

“Baiklah, saya kembali merantau,” Kalimantan mulai mengalah.

“ Saya juga pergi,” sambung Papua.

“Saya juga,” Sumatera menambahkan.

“Baiklah, kita kembali merantau,” tutup Sulawesi.

“ Abang-abang, sejauh apapun kita terpisah, kita tetap satu ibu dan bapak” tutur Jawa.

“Sudahlah” jawab Papua.

Mereka kembali menjalani kehidupannya masing-masing pada tanah yang telah disepakati untuk dibagi.

Sangat disayangkan, meski mereka sudah lama tidak berjumpa, sudah lama tidak saling bertukar kabar, hati mereka masih dipenuhi keinginan untuk menguasai warisan yang dimiliki Jawa.

Bahkan keinginan ini turun kepada keturunan mereka yang juga hendak memiliki rumah yang ditempati oleh Jawa.

Konflik tidak bisa dihindari, terjadi di berbagai sudut daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa pun dengan daerah Papua.

Cucu-cucu mereka mulai pecah, terjadi kekerasan, hasut menghasut agar terjadi pertempuran untuk menguasai daerah Jawa.

Jauh dari harapan, dulunya keluarga ini sangat harmonis, kian lama kian terkikis.

Pertumpahan darah terjadi di berbagai sudut negeri.

Mereka mulai memegang senjata dan tidak ragu melepas peluru jika melihat saudaranya berbeda pandangan dengan dirinya.

Wilayah Sumatera ingin menguasai sepenuhnya kekuasan atas semua peninggalan nenek kakek mereka.

Pun dengan yang lain, mereka bersikeras untuk menjadi penguasa, dan memiliki seluruh harta peninggalan.

Kondisi kian tidak terkendali, mulai dari penipuan, pembunuhan, hingga keadilan yang telah hilang.

Suasana tidak baik, suasana mencekam, ketidaknyamanan, sudah pasti  sang Ibu Pertiwi akan sangat sedih jika melihat kondisi cucu-cucunya seperti ini, perang karena harta peninggalan.

Umpama badai berlalu, sama halnya dengan konflik, pasti akan berlalu.

Perang berdarah sudah hampir bisa direda, beberapa daerah setuju untuk berdamai dan tidak melakukan peperangan lagi.

Namum, masih ada juga daerah yang tak ingin berdamai.

Mereka tetap bersikeras untuk menjadi penguasa pada tanah peninggalan Ibu Pertiwi.

Meski belum berdamai, mereka tidak melakukan tindakan-tindakan kekerasan lagi, mungkin mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk menunjukan taring di saat yang tepat.

Hal yang perlu diwaspadai dan ditakutkan akan terjadi pertumpahan darah lagi di bumi pertiwi.

Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi dan Jawa, lahir dari rahim yang sama, yaitu dari rahim Ibu Pertiwi.

Cucu-cucu mereka bersaudara.

Meski dipisahkan oleh jarak, mereka tetap bersaudara.

Tidak ada alasan berperang demi kekuasaan, harta peninggalan, karena sang buyut telah meninggalkan hak untuk anak-anaknya, dibagi rata, dibagi sama.

Jika perselisihan terjadi pada anak dan cucunya, sudah pasti ada yang serakah, ada yang tidak bersih hati, ingin menguasai semua peninggalan buyut.

Perdamaian harus diikat dalam darah setiap cicit-cicit Ibu Pertiwi.

Dengan adanya semangat tersebut, berkumpullah beberapa perwakilan daerah-daerah ke tengah daerah.

Tanah Jawa menjadi tuan rumah.

Perwakilan tersebut berkumpul untuk membuat komitmen agar pertumpahan darah dan peperangan tidak terjadi lagi dan juga memberlakukan keadilan seadil-adilnya bagi seluruh manusia yang menempati tanah peninggalan ini.

Komitmen yang telah tercipta, perdamaian yang telah mengikat, dan peninggalan yang telah diberikan haruslah dijaga oleh segenap manusia yang mengambil manfaatnya.

Banyak darah yang telah tumpah.

Jeritan dan tangisan, sudah banyak disaksikan alam ini.

Persaudaraan dan keberagaman tidak ternilai dengan harta, kekuasaan dan lainnya.

Ibu Pertiwi meninggalkan warisan kepada anak-anaknya, begitupun anak-anaknya meninggalkan warisan ke anak-anaknya lagi.

Hal tersebut akan terus berlanjut, tidak berhenti.

Tulisan ini merupakan karya tulis telah lama ditulis, untuk dijadikan digitalisasi, maka tulisan ini kembali diunggah pada Mediapeneliti.com. 

(Mediapeneliti.com/Syamsul Azman)

 

 

Oleh admin

Anda bisa terhubung dengan kami di Instagram @mediapeneliti

Tinggalkan Balasan