Kategori
Hiburan

Perempuan dalam Titisan Hujan (Bagian II)

MEDIAPENELITI.COM- Perempuan dalam Titisan Hujan (Bahagian II)

***

“Apakah tidak akan ketahuan sama yang lain?” bisiknya pada pria tampan berkulit bersih yang kini sudah mulai melepas jaket dihadapannya, ragu.

“Santai… yang lain sudah tidur. Sayang tenang ya. Bayangkan saja malam ini cuma milik kita berdua” bujuk laki-laki yang sangat ia cintai itu, dari dalam tenda yang hanya memuat dua orang.

Dia, dan satu-satunya pria yang berhasil mendapat izin setan untuk melepas pakaiannya. Maka, berahi lah keduanya tanpa busana saat yang lain sedang lena dibuai mimpi ditemani bunyi jangkrik dalam pekat malam.

Besok pagi-pagi sekali, ia kembali ke tendanya lengkap dengan pakaian yang semalam ia lepas. Tiga hari camping di wisata alam bersama beberapa orang teman sekelas sudah usai.

Biasanya, ia hanya akan mendapat izin keluar jalan-jalan atau camping bersama teman-teman pada hujung tahun. Itupun ditemani orangtua masing-masing.

Spesial tahun ini mereka diizinkan bepergian tanpa pengawasan orangtua, hanya ditemani abang dari salah seorang teman mereka yang ikut (buat jaga-jaga saja).

Tentu saja liburan kali ini menjadi liburan yang paling ditunggu-tunggu oleh mereka semua.

Selain bisa bebas tanpa pengawasan orangtua, perempuan malang itu dan si pacar tampan tadi juga sempat memanfaatkan momen bersama untuk memuaskan nafsu yang sejak lama sudah bersarang di hati masing-masing mereka.

***

Senyumnya mati mengingat peristiwa pada malam yang tak manis lagi dikenang.

Sekarang, yang tinggal hanyalah bukti ‘cinta’ yang bernyawa didalam rahimnya. Meski pacarnya bersedia bertanggungjawab atas segalanya, tetapi untuk apa lagi?

Tentu saja anak kaki judi dan penjual kue rumahan seperti dirinya tidak mungkin diterima menjadi menantu keluarga ternama. Hatinya hancur memikirkan nasib dirinya kini. Sudah berbadan dua di usia yang masih muda.

“Akan ku bicarakan baik-baik pada ibu. Aku yakin ibu akan paham. Lagi pula, selama ini ibu sangat menyayangi ku dan membela aku ketika dipukul ayah” yakin hati kecilnya yang kian timbul rasa penyesalan bercampur keinsafan.

Entah sudah berapa lama ia mengurung diri di kamar sejak tadi sore. Jangan ditanya perihal solat, karena sudah lama tak lagi ia kerjakan.

Menuruti bunyi perut yang sudah berkeroncongan meminta makan, ia pun keluar mendapati ibunya.

Sudah puas dicari di dapur, di ruang makan, di kamar, di ruang depan.. tetapi tidak ada kelibat bayang ibunya sama sekali. Hari sudah malam, mustahil ibunya belum pulang.

Di rumah hanya ada dirinya dalam kondisi yang masih setengah basah dan dingin. Ayahnya pula sudah terbiasa pulang larut malam.

Tiba-tiba timbul rasa cemas didalam hati perempuan malang itu memikirkan panggilan telefon yang diterima ibunya tadi sore. Barangkali ibunya mendadak pergi setelah mematikan telpon.

Tak ayal, ia pun bergegas menuju pintu utama dengan niat ingin mencari ibunya setelah mendapati ibunya meninggalkan telpon dilantai.

“Ini tak seperti biasanya. Ibu sepertinya sangat panik, sampai menjatuhkan telpon… tetapi siapa yang menelpon tadi?”, kali ini pikirannya terasa berat sekali. Khawatir terjadi apa-apa pada salah seorang kerabat yang ia kenal. “Atau mungkin ayah?…”

Sembari membuka pintu, selembar kertas putih yang terselip di sisi pintu utama melayang lalu jatuh ke lantai. Perempuan malang itu mengambil kertas yang berisi pesan tersebut. Barangkali ibunya sempat menuliskan pesan pada orang rumah, sebelum pergi.

Dengan nafas yang tersekat dan degupan jantung yang semakin kencang, ia mengambil kertas berisi tulisan ibunya dengan tangan gemetar sembari membacanya perlahan;

“Saya pergi ke rumah sakit Mutiara. Putri kita kecelakaan ketika pulang sekolah. Tabrak lari di jalan menuju perpustakaan kota. Jika kamu sudah pulang, susul saya kerumah sakit segera!”

***

*Cerpen ini ditulis sempena memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September 2020.

Tahukah Anda? Menurut data dari WHO, setiap 40 detik ada satu makhluk bumi yang meninggal dunia karena bunuh diri.

di Indonesia sendiri, info grafik menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri dibanding laki-laki.

Punca percobaan bunuh diri antara lain disebabkan oleh putus cinta, frustrasi ekonomi, dan keluarga tidak harmonis (Mediapeneliti.com/Fatimah Zuhra)

Tinggalkan Balasan