Kategori
Hiburan

Perempuan dalam Titisan Hujan (Bagian I)

MEDIAPENELITI – Perempuan dalam Titisan Hujan.

Sore itu hujan. Kebetulan saja di jalan tak banyak orang. Biasanya, jalan sempit menuju perpustakaan umum di kota kecil itu sangat padat dipenuhi anak sekolahan yang berdesak-desak turun dari bis kota menuju perpustakaan.

Begitu pula perempuan malang itu. Bedanya, sore itu ia tidak sedang ingin ke perpustakaan. Ada arah lain yang ia tuju, dengan tujuan yang satu.

Dia bisa saja memilih berjalan kaki pulang kerumah, atau sekedar duduk di bangku pojok bis paling belakang bila tak ada orang.

Cukuplah keliling kota kecil itu tanpa arah tujuan. Toh ia pun sudah hafal rute terakhir bis kota yang akan parkir di halte dekat rumahnya.

Tetapi sudah satu bulan ini ia keluyuran menaiki bis kota sepulang sekolah, turun di halte perpustakaan umum tempat anak sekolahan berdesak-desak mencari buku bacaan atau sekedar ingin menyelesaikan tugas mata pelajaran.

Jalanan masih basah, dan bis kota yang sudah mulai dikosongi penumpang lurus menuju halte sebelah. Perempuan malang itu berbalik arah. Ia berjalan pelan meski sekujur tubuhnya mulai diterpa hujan dan angin kencang.

“Kalau tidak mati, mungkin cacat. Kalau mati…” mulutnya kumat kamit mengulang-ulang dialog yang sudah berkali-kali ia hafal dikepalanya. Berat sekali pikiran perempuan malang itu.

Sore itu, sudah masuk minggu kelima ia mendongak ke langit, mencermati gedung tua tanpa atap yang dulunya menjadi tempat para pejabat duduk goyang kaki dari pagi sampai jam lima sore.

Sebentar lagi gedung tua itu akan dibongkar dan dibangun gedung yang baru. Dalam benak perempuan itu, ia punya hasrat melompat dari lantai atas gedung lantai 16 di hadapannya. Bahasa halus-nya, bunuh diri.

Sekonyong-konyong dalam pikirkannya, tak ada orang akan menganggap gedung kosong itu kemudian berhantu, karena ada perempuan malang mati bunuh diri disitu.

Toh sebentar lagi juga akan dibangun gedung baru. Entah dijadikan mall atau pusat belanjaan, dan orang akan dengan cepat melupakan tragedi berdarah perempuan yang berani bunuh diri disitu. begitu pikirnya.

***

Andai saja tragedi tabrak lari tak terjadi di hadapannya tadi, mungkin tekadnya sudah semakin bulat untuk mati. Entah kenapa, sepertinya Tuhan masih ingin dia berfikir kembali.

“Kasihan, sepertinya anak sekolahan. Cewek…” sahut kerumunan yang semakin berdatangan. Ia hanya menyaksikan kejadian itu dari seberang jalan. Terpaku seperti patung dijalan. Sedikit pun tidak beranjak, sepertinya memang tak tau harus apa, dan korbannya siapa?

“Panggil Ambulans… darahnya tidak berhenti mengalir.” Teriak seorang perempuan yang berpakaian serba hitam. Sepertinya perawat. Dia terlihat tahu apa yang harus dilakukan terhadap gadis malang yang sedang bertarung nyawa itu.

Sementara beberapa manusia lain hanya menonton dibalik payung yang digenggam. Ada yang menelpon dengan nada cemas. Barangkali menelpon ambulans atau polisi.

“Ah! Sayang sekali. Padahal anak itu pasti mau ke perpustakaan. Sayang sekali menjadi korban tabrak lari.” Batinnya.

Biasanya jalan itu memang banyak dipenuhi anak-anak sekolahan. Semua pengguna jalan akan lebih waspada ketika melewati jalan tersebut.

Mungkin karena sore itu hujan, dan si driver buru-buru.. “Ugh, seharusnya lebih hati-hati. Dasar pengendara tidak bertanggungjawab.” Gumam hatinya lagi.

***

Gara-gara kejadian tak enak tadi, ia mengurung niatnya bunuh diri sore itu. Nyatanya ia hanyalah gadis polos yang masih takut pada jarum suntik dan pemeriksaan gigi.

Tidak, tidak ada masalah pada gigi putih bersih miliknya, hanya saja ia tak suka pada cermin kecil yang disuguh masuk kemulutnya, saat giginya diperiksa.

Jangankan ingin bunuh diri, melihat darah sendiri aja ia bisa pingsan berdiri. Tak ada niatnya ingin mati, sebelumnya. Tidak pernah terlintas sama sekali, dulu.

Sepekan lagi hari ulang tahunnya yang ke-17 tahun. Seperti biasa dan sudah bisa ia tebak, ibunya pasti akan mempersiapkan pesta ulang tahun kecil kecilan.

Teman-temannya akan diundang untuk menikmati kue coklat manis buatan ibu yang terkenal satu kecamatan, dan sekedar berbual tentang hal-hal sepele terkait tugas sekolah yang belum selesai dan sesekali lelucon sialan.

***

Ibu sedang berbicara lewat telpon. Suara ibu kedengaran panik dan cemas. Sejak pulang tadi ia tak menyapa ibu dan langsung mengurung diri di dalam kamar.

Sesekali ia pun ikut menguping percakapan ibu dengan seseorang, dari balik pintu kamar. Suara itu terdengar cemas dan terbata-bata. Duganya, pasti ayah membuat onar lagi.

“Heh, seperti anak kecil saja. Sudah gaji pas-pasan, sering pula berjudi dipasar” getus hati kecilnya yang kian mendendam.

Tak jarang ayah pulang larut malam dengan muka babak belur dan mata yang bengkak. Sesekali pernah juga ia pulang membawa uang yang banyak.

Begitulah hidup si kaki judi. Menang jadi raja sehari, kalah mati dikeroyok teman sendiri. gara-gara tak ada uang. “Ah! Uang lagi uang lagi. Itu saja permasalahan sehari-hari”, keluhnya sudah tak tahan lagi.

Meski kue coklat buatan ibunya sudah cukup terkenal di kota kecil tempat mereka tinggal dan menerima banyak pesanan, tetap saja ayah hobi berjudi.

Alasannya, uang hasil judi nanti bisa buat modal buka toko kue buat ibu, padahal tentu saja uang haram tetap haram dipakai, atas alasan apapun!

Ah, berbicara tentang haram, ia pun berasa tak pantas. Sebab sebentar lagi perutnya akan membesar karena ulahnya sendiri.

Meski telah berjanji untuk menikah, tetapi sadarlah dia bahwa mereka tak hidup berdua di muka bumi. Pasti akan ada dua buah keluarga yang tercalar nama baik.

Akan ada aib yang melekat seumur hidupnya dalam bentuk jiwa manusia mungil yang sembilan bulan kemudian akan lahir dari rahimnya, jika ia tak segera mengakhiri hidupnya sekarang.

Tetapi peristiwa tadi sore masih jelas dalam pikirannya, betapa ia tak sanggup melihat darah yang begitu banyak mengalir dari tubuh kaku yang terbaring lemah.

Tak dapat ia bayangkan bagaimana ibunya akan mendapat kekuatan melihat anak tunggal satu-satunya yang dijaga penuh kasih sayang sampai usia dewasa kini memilih mengakhiri hidup dengan cara yang kejam.

Pertama ia membunuh dirinya sendiri, kedua ia juga membunuh janin kecil yang tak berdosa. Tentulah ibunya akan merana karena kesalahan fatal yang ia perbuat.

Meski ayahnya seorang kaki judi dan sering memukul dia dan ibunya, perempuan malang itu sangat mencintai ibunya lantaran sifat penyayang sang ibu yang sangat besar dan karakter yang jauh berbeda dari ayahnya.

Masih saja sebagai seorang anak tunggal yang kurang mendapat kasih sayang dari sosok laki-laki yang seharusnya melindungi dan menjaga dirinya, ia pun seperti anak kecil yang haus akan cinta  dari lawan jenisnya.

Tak heran, di usia 15 tahun ia sudah mengerti cara berpacaran. Kulitnya yang putih susu, warna mata cokelat kristal dan hidung mungil yang kemas terbentuk, serta bibir yang merah merekah mampu menarik perhatian siapapun yang melihat.

Perempuan itu memang mewarisi kecantikan ibunya yang berdarah jawa dan kakeknya yang berketurunan Tionghua. Pun begitu ia tak sembarang dalam mencintai.

Laki-laki yang juga merupakan ayah dari janin yang ia kandung sekarang merupakan anak seorang konglomerat terkenal di ibu kota.

Paras tampan dengan sosok tubuh tinggi dan dada yang bidang mampu membuat hati perempuan mana pun terpikat.

Keberuntungan baginya mampu memiliki pria tampan dan kaya itu. Iya, walau hanya keberuntungan yang sekejap.

***

Baca Perempuan dalam Titisan Hujan (Bagian II), disini

(Mediapeneliti.com/Fatimah Zuhra)

Tinggalkan Balasan