Kategori
Uncategorized

Pespektif masyarakat aceh terkait “Makhluk menjelang magrib” : Percaya atau tidak?

 

 

Oleh: Cindy Anindya Ginting, Putroe Marzurita Al Jannah, Mira Pasca Tiara, Muhammad Ghifary, Amar Kadafi, Fajarul Husni. 
Dosen Pengampu: Mirza, S.Psi., M.Si

“Geunteut: Percaya atau Tidak?”

“Bek tubit watéé maghréb, enteuk di cok lhéé geunteut!”. Kalimat ini terasa tidak asing di telinga anak-anak pada era 90-an.

Geunteut adalah sesosok jin atau makhluk mistis yang diyakini oleh masyarakat Aceh memiliki ciri-ciri yang menyeramkan yaitu badan yang sangat tinggi, berwarna hitam pekat, berambut keriting, dan memiliki kaki yang panjang. Nama Geunteut sendiri tidak terlepas dari arti “geunteut” yang dalam Bahasa Aceh memiliki arti “sangat panjang atau tinggi”.

Geunteut dipercaya memiliki tubuh yang dapat memanjang tidak terhingga jika dilihat ke atas, dan sebaliknya, geunteut pun dapat memendek ketika ditatap ke bawah.  Makhluk ini biasanya menampakkan diri di tengah jalan sewaktu maghrib hingga malam hari, serta terlihat berjalan kaki dengan langkahnya yang panjang-panjang dan akhirnya masuk ke dalam rumpun bambu atau ke dalam semak-semak. Makhluk ini juga dikenal dapat berlari sangat kencang bagaikan angin.

Makhluk geunteut ini dipercaya suka menculik anak-anak. Konon katanya anak yang diculik oleh geunteut akan berhalusinasi sedang berada disuatu tempat yang membuat mereka begitu nyaman. Ketika mereka sadar, mereka menemukan dirinya berada di suatu tempat yang tidak dikenalinya seperti di atas pohon kelapa, di sawah-sawah, di hutan, dan di perkebunan.

Di daerah Aceh sendiri, sesosok makhluk mistis bernama Geunteut pernah menjadi isu hangat bagi anak-anak generasi 90an dan sebelumnya. Akibatnya, hal ini menyebarkan rasa takut di kalangan anak-anak di zaman tersebut. Masyarakat Aceh zaman dahulu percaya akan keberadaan makhluk Geunteut ini. Setiap sore mereka akan mengingatkan anak-anaknya untuk tidak bermain-main lagi menjelang azan maghrib hingga malam hari atau mereka akan diculik oleh sosok geunteut ini.

Sejalan dengan teori mengenai mitos yang dikutip dari buku yang ditulis oleh Renos K. Papadopolous dengan judul The Handbook of Jungian Psychology, Theory and Practice, di mana Jung berpendapat bahwa mitos yang dipercayai juga dipengaruhi oleh alam bawah sadar dalam diri seseorang atau disebut juga ketidaksadaran kolektif. Ketika suatu perasaan yang hadir, seperti ketakutan atau khawatir, dan berbagai rasa lain direpresi di dalam diri seseorang maka akan tertanam rasa yang pada akhirnya menjadi suatu kepercayaan. Seperti halnya mitos yang terjadi secara turun menurun di dalam suatu kelompok atau daerah, maka hal tersebut akan terus berkelanjutan dan dipercayai dari generasi ke generasi.

Namun cerita mengenai makhluk-makhluk mistis ini mulai pudar dari omongan masyarakat. Masyarakat-masyarakat zaman sekarang cenderung tidak percaya lagi dengan mitos-mitos atau cerita orangtua mereka dimasa kecilnya. Hal ini dapat dilihat dari hilangnya cerita-cerita mengenai sesosok geunteut di zaman sekarang.

Menurut hasil wawancara kelompok dengan salah seorang masyarakat Aceh berusia sekitar 50 tahun NS “Waktu zaman dulu Geunteut dibilang sama orangtua hantu sejenis genderuwo tapi sosoknya ini panjang tinggi, kalau kita bilang itu kayak orang main enggrang, tapi genteut ini dia jahat keluarnya maghrib-maghrib. Terus anak zaman dulu itu suka dibilang sama orangtuanya karena selalu main sampai magrib, dibilang jangan keluar maghrib-maghrib masuk kedalam rumah, karena nanti diambil sama geunteut.

Terus kalau anaknya gak mau masuk pasti diliatin di pohon-pohon  atau di langit (keatas) nanti diculik sama geunteut itu disembunyikan di dalam batang bambu, jadi makanya anak-anak gak ada yang main magrib-maghrib. Kalaupun anak-anak pergi ngaji itu pasti udah siap magrib, karena kan waktu magrib itu waktunya setan berkeliaran makanya pintu jendela apapun itu harus ditutup, dan baca bismillah supaya setan gak ikut masuk kedalam rumah.

Tapi seiring berkembangnya zaman orang udah pada lupa sama cerita itu, juga ibu-ibu generasi zaman dulu udah tua-tua dan anaknya udah besar-besar jadi anaknya juga udah gak peduli lagi soal mitos itu. Terus kalau maghrib-maghrib wudhu atau mandi ditempat yang gak ada atapnya tapi ada dinding itu juga bisa diculik sama geunteut itu, makanya dulu pas kecil-kecil harus cepat-cepat wudhunya di tempat ngaji saat mau salat magrib. Karena kalau terlambat nanti bisa diambil sama geunteut tapi kita gak sadar, tau-tau paginya udah di pohon bambu. Karena makhluk geunteut itu sosok menakutkan buat anak-anak zaman dulu” tutur NS.

Zaman dulu orangtua selalu memperingatkan anaknya untuk pulang sebelum maghrib karena percaya adanya geunteut, namun zaman sekarang kisah tentang geunteut ini sudah jarang terdengar dan tidak lagi dipercayai masyarakat Aceh masa kini. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman dan teknologi yang mana membuat modernisasi semakin cepat.

Tempat-tempat yang dulunya gelap dan sepi sekarang sudah ramai dan memiliki pencahayaan yang baik, sehingga tidak menimbulkan rasa takut bagi orang yang melintasi tempat tersebut. Selain itu, dengan berkembangnya informasi yang menyebabkan perubahan pada pola pikir masyarakat. Masyarakat juga tidak lagi meneruskan cerita-cerita mengenai sosok geunteut ini ke anak-anak mereka sehingga cerita-cerita ini sudah jarang terdengar dan umumnya tidak dipercayai oleh anak-anak di zaman sekarang.

 

Oleh admin

Anda bisa terhubung dengan kami di Instagram @mediapeneliti

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.