Kategori
Pendidikan

Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh – Bagian Pertama

Terdapat beberapa pendapat terkait awal pembangunan Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, ada catatan menyebut masjid ini didirikan sebelum masa Sultan Iskandar Muda.

Ada pula catatan menyebut masjid ini dibangun pada tahun 1614 M oleh Sultan Iskandar Muda bersamaan dengan beberapa masjid lainnya di Aceh.

Menurut informasi lainnya, MRB dibangun pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Mahmud Syah 1 tahun 1292, namun informasi ini tidak memiliki data akurat, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai pegangan.

Pada era Sultan Ali Mughayat Syah berkuasa (1514-1529 M) juga tidak didapatkan catatan mengenai pembangunan MRB. Sehingga, yang bisa dijadikan rujukan sejarah masjid ini, dari kitab Bustanussalatin yang menyatakan pembangunan MRB dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1614 M.

Selain dalam Kitab Bustanussalatin, peneliti dari Belanda Snouck Hurgronje dalam tulisannya juga menjelaskan, MRB didirikan oleh Sultan Iskandar Muda dengan sebutan Meuseujid Raya (karena luas bangunan/ sebagai tempat ibadah utama kerajaan).

Merujuk informasi dari Kemendikbud, pada awalnya, MRB berkonstruksi kayu dengan beratap rumbia, selanjutnya dilakukan renovasi-renovasi sampai MRB berbentuk seperti saat ini.

Ketika perang berlangsung, antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Belanda tahun 1873, MRB dijadikan lokasi bertahan oleh pejuang Aceh. MRB juga menjadi tempat perebutan antara pejuang Aceh dengan Belanda, pihak penjajah ingin menguasai MRB, karena tempat penting bagi Aceh.

Pertempuran demi pertempuran terjadi, sampai Mayor Jenderal J.H.R. Kohler tewas akibat peluru dari pejuang Aceh, tepatnya pada tanggal 14 April 1873.

Berselang tiga hari setelah Kohler tewas, pasukan Belanda menarik diri menuju ke arah pantai, lalu pasukan ini mendapat izin dari Pemerintah Hindia Belanda untuk meninggalkan Aceh.

Belanda resmi meninggalkan Aceh pada 29 April 1873 dan agresi pertama ini mengalami kegagalan.

Belanda kembali menjalankan misi menguasai Aceh, dengan mengangkat Letnan Jenderal Van Swieten yang didatangkan khusus dari Belanda tanggal 9 Juli 1873 untuk menaklukkan Aceh.

Pada 9 Desember 1873, Agresi Belanda kedua dimulai, pada 6 Januari 1874, Belanda berhasil menguasai MRB yang telah habis-habisan dipertahankan oleh Tuanku Hasyim Banta Muda dan Panglima Teuku Imeum Lueng Bata dan pasukannya.(bersambung bagian kedua)

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan