Kategori
Tips

Tips Berbicara agar Berkualitas Cocok untuk Pasangan Suami Istri

MEDIAPENELITI.COM – Tips berbicara satu ini cocok untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih bagi pasangan suami istri. Berbicara sedikit namun berkualitas rasanya lebih baik daripada berbicara banyak tapi tidak ada artinya sama sekali, benar menurut Anda ?

Tips berbicara ini masih seputar buku ‘Bicara itu Ada Seninya’ karangan Oh Su Hyang. Kami sengaja tetap mengutip dari buku ini, agar pembahasan tersampaikan menyeluruh dan tidak putus-putus. Anda pun bisa memahami isi buku tersebut dari yang kami paparkan.

Baik, langsung kita mulai. Pada buku tersebut, tertera judul yang cukup menyita perhatian.

Pasangan yang Tidak mengobrol 30 menit dalam Sehari

Pada buku tersebut diceritakan bahwa ada pasangan suami istri yang jarang berbicara, pun kalau berbicara maka akan terjadi pertengkaran antara keduanya. Hal ini disebabkan karena dari awal kurangnya percakapan antara keduanya sehingga terbawa-bawa sampai usia pernikahan yang tidak muda lagi.

Kesibukan bekerja menjadi salah satu faktor pasangan suami istri malas untuk berbicara. Suami pulang kerja dengan keadaan lelah, atau istri pulang kerja dengan penuh masalah di tempat kerjanya, kemungkinan besar malas untuk berbicara karena terlalu lelah untuk mengungkapkan yang ia alami.

Sebenarnya, dengan berbicara, salah satu cara agar masalah yang dialami bisa berkurang. Konfilik selain bisa muncul karena terlalu banyak bicara, kurangnya bicara juga menjadi salah satu faktor konflik.

Namun, rumus seperti yang diuraikan pada pembahasan sebelumnya masih bisa diterapkan, yakni dengan teknik C=QxPxR.

Tanya + Puji + Reaksi. Inilah teknik yang bisa Anda gunakan setiap saat.

Berikut ini percakapan suami istri yang baik dan bisa dijadikan sebagai contoh dalam berbicara.

“Menurutmu bagaimana hasil promosi jabatan kali ini?”

la yang tadinya menatap televisi langsung menoleh ke arah saya. Lalu dengan wajah tidak enak hati ia menjawab,

“Aku tidak terlalu berharap”.

Kemudian saya berkata,

“Ya, kesempatan bukan kali ini saja. Kalau bukan kali ini, mungkin lain kali. Semoga yang terbaik”.

la pun tersenyum hangat. Tidak berhenti sampai di sini. la mungkin tidak tertarik lagi kepada televisi, dan langsung bangkit serta duduk di dekat saya dan bercerita.

la yang biasanya pendiam dan tidak banyak bicara mengemukakan kontribusi, prestasi, dan kehebatannya selama di perusahaan. Saya akan mendengarkan sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan “Oh Ya” “Oh, begitu.” Dengan demikian, suami saya pun dapat mengungkapkan seluruh isi pikirannya.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Korea, penyebab utama pasangan suami istri kurang berkomunikasi karena pekerjaan. Selain itu, ditambah dengan adanya televisi, computer, handphone, maka dialog antara suami istri semakin berkurang.

Teknik berdialog bukanlah tentang waktu, namun mengenai rumus berkomunikasi, yakni kemampuan berdialog dengan baik. Banyak pasangan lupa bahwa pentingnya teknik dalam berbicara selain meluangkan waktu untuk bersama.

Faktor Positif dan Negatif dalam Dialog

National Institute of the Korean Language mengeluarkan bahan riset yang menarik, bahwa semakin banyak waktu berdialog, maka semakin tinggi indeks kebahagiaan, dan sebaliknya semakin sedikit dialog maka semakin rendah indeks kebahagiaan.

 

Di dalamnya terungkap pula faktor positif dan negatif dalam sebuah percakapan, yaitu sebagai berikut:

Faktor Positif Dialog

Menggunakan panggilan yang diinginkan satu sama lain, saling menyapa saat pulang ke rumah, menggunakan bahasa yang sopan, saling memuji dan mensyukuri, berusaha mencapai kesepakatan, mendengarkan lawan bicara hingga selesai, menunjukkan reaksi mengerti saat lawan sedang bicara.

Faktor Negatif Dialog

Menggunakan umpatan atau kata-kata kasar saat marah, membanding-bandingkan dengan orang lain, berbohong situasi mendesak, meluapkan perasaan yang terpendam saat marah, tidak nyaman berbicara sambil menatap wajah lawan. tidak menggunakan humor, saling mengkritik dan menuding mengungkit-ungkit kebaikan diri sendiri, mengakhiri obrolan dengan pertengkaran.

Kita harus mengetahui hal-hal seperti ini dengan lebih banyak berdialog. Di “faktor positif dialog”, kita dapat melihat rumus komunikasi. Tertarik terhadap lawan bicara, memberi pujian, dan bereaksi.

Sementara untuk “faktor negatif dialog” perlu diingat dan dihindari. Alih-alih memberikan pujan, berbicara menggunakan kata-kata kasar atau umpatan dan membandingkan dengan orang lain akan membuat komunikasi tidak terbentuk sama sekali.

“Lelaki sebelah rumah katanya naik pangkat.” (Membandingkan dengan orang lain)

“Bisa apa kita dengan gaji sekecil itu?” (Mengkritik dan menuding)

“Penghargaan ini kita dapat berkat kemampuanku yang hebat.” (Menyebut-nyebut kebaikan diri sendiri)

“Aku capek. Berhentilah.” (Mengakhiri obrolan dengan pertengkaran)

Dalam hubungan dengan orang yang sering dijumpai seperti keluarga, teman, atau rekan kerja kita dapat menemukan kesulitan akibat komunikasi.

Karena kita mengira orang lain dapat mengerti perasaan kita hanya dengan berbicara secukupnya. Mari kita eratkan hubungan dengan orang terdekat dengan “faktor positif dialog.”

Dengan berbicara seperti contoh di bawah ini, waktu dialog pasti akan menjadi lebih banyak.

“Semua baik-baik saja di kantor?” (Saling menyapa saat pulang ke rumah)

“Terima kasih, Sayang.” (Saling memuji dan mensyukuri)

“Benarkah?” (Menggunakan bahasa yang sopan)

“Capek, ya? Aku mengerti.” (Menunjukkan reaksi mengerti dan mendengar)

(Mediapeneliti.com/Syamsul Azman)

 

Oleh admin

Anda bisa terhubung dengan kami di Instagram @mediapeneliti

Tinggalkan Balasan