Kategori
Uncategorized

Transformasi Masjid Agung At-Taqwa Agara jadi Lokasi Wisata Religi

Masjid Agung At-Taqwa Aceh Tenggara (Agara) dibangun secara gotong royong pada tahun 1956 dan selesai pembangunannya pada tahun 1962. Berlokasi di Kecamatan Babussalam, Aceh Tenggara.

Sebelumnya rumah ibadah ini tergolong sangat sederhana, sebelum akhirnya menjadi salah satu masjid populer di Aceh sampai menjadi tempat ibadah destinasi wisata religi menarik di Tanah Alas.

Masjid yang tergolong berusia cukup lama di Aceh Tenggara ini, kembali dibangun pada masa Bupati H Hasanuddin B MM. Desain masjid juga dibuat oleh bupati dua periode ini (2007-2012/ 2012-2017).

Pada tahun 2010, dilakukan peletakan batu pertama, sekaligus sebagai tanda dimulainya pengerjaan pembangunan masjid.

Bangunan rumah ibadah seluas 2.675 meter persegi dan luas area masjid 12.230 yang sanggup menampung 4000 jamaah di dalam masjid serta 2000 jamaah untuk bagian luarnya ini, diresmikan pada Jumat 8 April 2016 oleh Ketua DPR RI, Ade Komaruddin ketika menjabat masa itu.

Selain itu, turut pula berhadir ketika peresmian, Sekretaris Daerah Provinsi Aceh, Dermawan, Bupati Aceh Tenggara, Ir. H. Hasanuddin dan ribuan tamu undangan dari berbagai daerah di Aceh.

Untuk biaya pembangunan masjid, tercatat membutuhkan dana sebesar sekitar Rp 72.9 miliar dan diklaim tahan gempa hingga 8 SR.

Masjid Agung At-Taqwa juga memiliki empat menara, lima kubah utama, 15 kubah pendamping, sungguh indah dipandang, bak bangunan-bangunan megah lainnya.

Rancangan masjid sangat megah, bergaya Eropa dan dipadukan dengan seni Islami Aceh, seni ukir bangunannya  bermotif ukiran khas Suku Alas (Sikhat Alas) dikombinasikan dengan Kubah ala Turki dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, seperti tempat wudhu, toilet yang bersih dan lahan parkir yang luas.

Apalagi ketika malam hari, Masjid terlihat kokoh dan memperlihatkan kemegahan Islam, dengan cahaya terang mampu menarik mata untuk memandang.

Sejak masjid ini diresmikan pada tahun 2016 lalu, Masjid Agung At-Taqwa menjadi ikon baru di Aceh Tenggara, sekaligus daya tarik wisatawan berkunjung, baik untuk sekedar mengabadikan momen perjalanan, sampai untuk menunaikan keinginan beribadah. Sekaligus menjadi tempat favorit masyarakat untuk menunggu masuk waktu pelaksanaan shalat, khususnya Magrib sampai Isya.

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan