Kategori
Hiburan

Tulisan ini Tidak Ada Arah

MEDIAPENELITI.COM – Tulisan ini tidak ada arah, sesuai dengan judul, semua yang akan Anda baca hanya sesuatu yang tidak tahu kemana tujuannya.

Anda bisa memberikan kesimpulan sendiri, dengan apa yang Anda dapatkan setelah membacanya.

Baik maupun buruk yang Anda temukan, semua kembali pada diri Anda.

Tulisan ini tidak ada arah, sama seperti kehidupan manusia, yang masih mencari arah dan tujuan hidupnya untuk apa.

Beribadah ? tentu, mengenai hal berkaitan spritual bukan menjadi bahan diskusi lagi, karena sudah final.

Pembahasan agama sudah tentu akan mengarah ke Surga maupun ke Neraka, membahas nilai moral dan sebagainya.

Namun, kali ini kita mencoba membahas ke arah tujuan, agar ada arah, biar tidak seperti tulisan ini, tidak tahu mengarah kemana, serta apa tujuan penulisannya.

Manusia pintar hanya dugaan

Perdebatan demi perdebatan sering diperlihatkan oleh siapa saja yang ‘merasa’ dirinya pintar.

Menang debat meski isi dari argumennya tidak memiliki kualitas apapun, selama ia besar suara dan ‘ngotot’ menang dan closed-minded, maka ia akan berhasil membungkam siapa saja.

Mengapa ia menang ? meski kualitas dari argumennya tidak ada sama sekali.

Karena, ketika mengalami kesulitan melawan objektifitas pikiran, ia akan menyerang kepribadian, dengan mengatakan hal-hal sensitif dan keluar dari inti permasalahan dan memutarkan semua kata-katanya, sehingga ia bisa membungkam siapa saja.

Orang ‘merasa’ pintar seperti ini akan menguasai dunia, mengapa ? karena banyak sekutu dan orang serupa dengannya.

Menuntut manfaat tapi tidak memberikan manfaat

Sering melihat orang menuntut, apapun dituntut , seperti orang di jalanan, menuntut Pemerintah memberikan semua keinginannya.

Menuntut agar Pemerintah memberikan permintaannya dan meminta diprioritaskan dari apapun yang sedang dipikirkan Pemerintah.

Berteriak, mengatakan Pemerintah tidak benar, mengungkit-ungkit semua yang bisa diungkit.

Mereka tidak peduli dengan apapun, hanya peduli dengan keinginan mereka segera tercapai.

Ketika ditanyakan, ‘kalian sebenarnya menuntut apa?’ jawabannya ‘kami membela hak rakyat, menuntut kesejahteraan untuk rakyat’.

Lalu, apakah Pemerintah ingin rakyatnya hidup menderita? coba kita tarik benang, Pemerintah dan orang-orang dijalanan menyuarakan keinginannya, sama-sama memiliki tujuan untuk mensejahterakan rakyat.

Hanya cara saja yang berbeda.

Lalu, jika rakyat tidak sejahtera, salahkah Pemerintah ?

Jika rakyatnya sendiri yang tidak mau berubah, tidak mau menjadi sesuatu bermanfaat bagi orang lain, apakah Pemerintah yang salah ?

Sesekali coba bela hak Pemerintah pada rakyat, suarakan keinginan Pemerintah pada rakyat, agar rakyat tidak bangun tidur pukul 12 siang.

Komen, komen, komen melulu

Bukan hal baru, budaya mengomentari di negeri ini kuat. Media sosial dipenuhi dengan komentar-komentar orang yang closed-minded.

Mengapa ? karena ia menggunakan akun fake untuk mengutarakan apa saja kebodohannya.

Semakin banyak mengomentari, maka semakin terlihat pemikiran terbatas.

Komentar bukan hanya di media sosial saja, di dunia nyata pun tidak kalah asiknya.

Menasehati jika diminta, mengomentari jika diminta, jika tidak ada diminta, lalu untuk apa mengomentari ?

Biar terlihat pintar dan membuktikan diri lebih bisa dari orang lain ?

Bukan, Anda bukan membuat orang tersanjung, Anda hanya membuat diri Anda terlihat seperti badut sedang bernyanyi.

Orang yang mendengar bukan takjub, tapi tertawa melihat Anda.

Berbeda jika, orang terkait meminta Anda untuk memberikan pendapat, meminta saran. Nah, wajar saja Anda utarakan dengan objektif.

Banyak menggunakan Topeng

Terlalu banyak bersandiwara, membuat orang tidak tahu mana yang sebenarnya.

Sifat yang berubah-ubah, sulit untuk dipercaya, sulit berkata jujur juga menjadi salah satu penyebab bobroknya manusia.

Hari ini mereka berkata seperti ini, besok berkata demikian, setiap harinya berubah-ubah dan tidak memiliki pendirian.

Hal demikian sulit untuk dimengerti, sehingga tidak ada lagi kemurnian dalam berhubungan dengan sesama manusia selain untuk mendapatkan manfaat.

‘Apa manfaat dia untukku?’ pemikiran demikian kerap terjadi pada manusia saat ini. Jika terlihat manfaat, maka orang terkait akan berbaik dan memberikan senyumnya palsu nan indahnya.

Namun, ketika ‘ia tidak bermanfaat untukku’ maka perlakuannya akan berbeda.

Hal demikian banyak terjadi di lapangan. Ketika semua telah berubah muncul kata-kata baru ‘Kamu gak ingat sama aku, aku kan teman kamu’. Kalimat semacam itu muncul ketika kehidupan telah berbeda.

Mestinya, sedari awal jangan tanamkan ‘apa manfaat dia untukku?’ namun ubah menjadi ‘manfaat apa yang aku bisa berikan padanya?’.

Pertanyaan pada diri sendiri itu yang memurnikan hubungan dengan sesama. Jadi, tidak berekspektasi berlebihan.

Jika orang sekitarmu tidak memberikan manfaat apapun, maka kamu bermanfaat bagi mereka.

Sehingga muncul kemurnian dalam berhubungan sesama manusia. Tanpa mengharapkan keuntungan dari sebuah kedekatan.

Banyak bicara daripada mendengar dan melihat

Mulut bisa mengatakan apa saja, tanpa adanya bukti, tanpa adanya pengamatan.

Mulut bisa mengatakan apapun, merangkai kata dengan tajamnya, dengan mewahnya, dengan segala macam tujuan dan keinginannya.

Namun, sangat sedikit mulut bisa mengatakan sesuai dengan yang dilihat dan didengar.

Mulut hanya mengatakan sesuatu yang menguntungkan dirinya, jika sesuatu merugikan diri, maka mulut akan tertutup rapat.

Berbeda dengan mulut yang sering tertutup dan hanya mengutarakan hal-hal yang penting.

Karena tentunya, yang ia utarakan bukan sekedar pemanis, ia berkata kebenaran, tentunya kebenaran tidak dengan gampang terlihat.

Untuk mengapai kebenaran, banyak tabir harus dilewati, banyak dinding harus ditelusuri.

Sampai demikian pun, tabir untuk melihat kebenaran masih belum terlihat jelas. Sehingga banyak yang mengatakan, kebenaran itu relatif, alasannya karena semua orang memiliki nilai kebenarannya sendiri.

Namun, jika nilai ini yang diamalkan oleh segenap manusia, maka akan pusinglah semua hukum di atas muka bumi.

Ibarat begini, kita sepakati mencuri adalah kesalahan, namun menjadi benar ketika ia mencuri untuk bertahan hidup, karena telah berusaha mencari secara halal namun tidak mendapatkannya.

Jika semua orang berlindung dengan alasan demikian ketika melakukan kesalahan, maka semua yang ada di atas muka bumi tidak bernilai apapun.

Maka, pertanyaan besar, apa nilai kebenaran bagi Anda ?

Sama seperti judul, tulisan ini tidak ada arah. Anda bisa mengambil kesimpulan apapun dari tulisan ini.

Paragraf penutup, kami ingin bertanya pada Anda.

Anda hanya perlu menjawab dengan hati Anda, bagaimana Anda menilai sebuah kehidupan, jika Anda belum benar-benar merasakan hidup?

(Mediapeneliti.com/Syamsul Azman)

Oleh admin

Anda bisa terhubung dengan kami di Instagram @mediapeneliti

Tinggalkan Balasan